Kamis, 15 Desember 2011

Satwa Langka Marak Diperjualbelikan di Perbatasan


Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, mengatakan bahwa penjualan satwa liar yang dilindungi marak dilakukan di kawasan perbatasan, seperti di Pontianak, Kalimantan Timur dan Barat, dan sejumlah titik di wilayah Sumatra. "Kita sudah menandai beberapa lokasi yang marak terjadi penyelundupan satwa dilindungi, dan merekomendasikan agar pengawasan di titik-titik tersebut ditingkatkan," ujar Darori. Beberapa lokasi di Sumatra yang kerap menjadi jalur penyelundupan ke Malaysia adalah jalur laut melalui Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Sedangkan, untuk ke Filipina, para penyelundup biasanya menggunakan jalur laut Maluku.
Satwa langka dan dilindungi favorit yang diselundupkan di antaranya adalah burung cenderawasih, dengan modus yang semakin canggih. "Modusnya bukan lagi dibawa dengan sarang, tapi diberi obat tidur, dan burung yang tertidur diselipkan di balik jaket," ungkapnya. Menurut Darori, ketatnya pengawasan melalui kerja sama pihak kepolisian setempat bekerja sama dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) diharapkan mengatasi hal tersebut. Perdagangan satwa dilindungi dapat dijerat pasal 21 ayat 2a juncto pasal 40 ayat 2 Undang-undang No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman pidana penjara selama lima tahun.
Sumber: national gegrapich.co.id

Pola Makan Orangutan Bisa Jadi contoh Manusia




Pola makan orangutan yang kuat bersantai seharian hanya untuk makan daun dan buah dianggap sebagai sesuatu wajar. Pasalnya, mereka harus menimbun lemak untuk menghadapi masa-masa sulit ketika makanan susah didapat. Pola makan seperti ini juga ditemukan di manusia. Bedanya, manusia bukan menimbun lemak karena bersiap dengan musim paceklik. Melainkan karena pola hidup yang kadang secara tidak sadar menimbulkan masalah kesehatan seperti kegemukan. Atas hubungan ini, seorang peneliti dari Amerika Serikat, Erin Vogel, mencoba menjadikan orangutan sebagai model untuk mempelajarai kegemukan pada manusia. "Orangutan menjadi model menarik untuk mempelajari kegemukan pada manusia karena mereka satu-satunya kera dan kemungkinan satu-satunya primata non-manusia yang menyimpan cadangan lemak di alam liar," kata Vogel yang juga anthropologis dari Rutgers University di New Jersey, Amerika Serikat. "(Pola makan) ini belum pernah didokumentasikan di spesies lain," tambahnya. Vogel dan beberapa koleganya sudah mempelajari sampel urin dari orangutan yang ada di Kalimantan selama lima tahun. Penelitian ini dipimpin oleh seorang ahli anthropologis-biologis, Dr Cheryl Knott. "Orangutan hidup di habitat yang benar-benar menantang dan dapat mengambil keuntungan dari periode ketika buah berlimpah luar biasa, di mana 80 persen pohon mulai berbuah. Mereka makan dan makan hingga akhirnya gemuk," ujar Vogel lagi. Tapi ketika akhirnya masuk masa paceklik, yang kadang bertahan hingga delapan tahun, orangutan mulai beradaptasi dengan beralih memakan kulit tumbuhan. Dari hasil penelitian, perubahan makanan ini mempengaruhi urin orangutan. Awalnya, para peneliti menemukan zat organik yang disebut ketones sebagai penanda jika orangutan membakar lemak menjadi energi. Kemudian ditemukan lagi isotop nitrogen yang tinggi yang artinya orangutan memecah sel otot agar bisa menjadi protein dan energi. "Mereka harus mendapat energi dari suatu sumber, jadi mereka mulai memakan jaringan tubuh sendiri. Situasi ini sama seperti yang kita temukan dalam tubuh manusia yang kekurangan makan atau pun penderita anoreksia," papar Vogel. Studi ini menunjukkan jika orangutan bisa mengambil keuntungan dari kemampuan menyimpan lemak demi bertahan hidup. Sayangnya kemampuan ini belum bisa dimaksimalkan pada manusia. "Manusia punya kemampuan untuk menyimpan lemak, tapi sebagian besar dari kita berharap kemampuan itu tidak ada."
Sumber: national gegrapich.co.id

Rabu, 19 Oktober 2011

Menhut ajak Blogger hijaukan hutan



Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan selama rentang waktu 60 tahun terkahir ini sebanyak 30 persen lebih hutan Indonesia menyusut dan rusak.

Hutan kita ini dalam 60 tahun ini telah berkurang 30 persen lebih," ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu.
Menhut mengajak seluruh Blogger (pemilik blog/media sosial di internet) untuk ikut menghijaukan kembali hutan Indonesia yang telah mengalami kerusakan.

Perlu peran serta semua pihak untuk memulihkannya termasuk komunitas media sosial. Para Blogger ini kan sangat berpengaruh dalam media sosial. Oleh karena itu, mereka bisa ikutserta mengajak masyarakat melalui kampanye penghijauan kembali hutan kita," harap Menhut.

Untuk mengembalikan keteduhan hutan Indonesia, lebih lanjut dia mengatakan dapat dilakukan dengan menanam pohon 10 bibit per orang. "Dengan cara itu, Indonesia akan kembali berjaya dalam urusan hutan dalam tempo 30 tahun ke depan," ujarnya.

"Jika seluruh rakyat dapat menanam 10 pohon dan merawatnya maka hutan Indonesia dapat di pulihkan kembali dalam waktu 30 tahun. Untuk mendukung upaya ini Saya tidak mengeluarkan izin baru sejak tahun 2009," kata Zulkifli dalam diskusi dengan para blogger di kawasan jalan Aditiawarman, Jakarta Selatan, kemarin.

Berdasarkan Data Kementerian Kehutanan tingkat kerusakan telah mencapai lebih dari 1,08 juta hektar (ha) setiap tahunnya. Dengan itu, menurutnya luas hutan yang rusak di Indonesia telah mencapai 65 juta hektar atau sekitar 30 persen dari total luas hutan Indonesia.

Menurut dia, penyebab kerusakan hutan, adalah ekspolitasi, perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan dan areal pertambangan yang mengesampingkan ketahanan lingkungan. Selain itu, otonomi daerah juga ditengarai menyumbang kerusakaan hutan di Indonesia, karena disinyalir dengan gampangnya, pemerintah daerah memberikan izin kepada investor asing.

Apalagi, lanjutnya, terjadi gerakan eksploitasi, konversi, dan alih fungsi terutama pada tahun 1998-2002. Perlu adanya perubahan kebijakan yang mendasar dari pemerintah pusat hingga ke daerah guna mewujudkan kembali hutan Indonesia yang pernah menjadi pusat paru-paru dunia.

Lebih lanjut dia mengatakan Kementeriannya sendiri tahun ini menyediakan bibit sebanyak 500 juta batang bibit untuk menghijaukan kembali hutan Indonesia. Bibit ini dapat diambil di Kementerian Kehutanan dan dinas kehutanan di seluruh Indonesia dan tidak dikenakan biaya sedikit pun guna kembali mentata hutan Indonesia.

sumber:antaranews.com

Pengaruh dari Perubahan Iklim Susutkan Ukuran Tanaman




Dari sebuah studi, beberapa peneliti melaporkan bahwa salah satu efek dari pemanasan global adalah Namun perubahan iklim tak hanya mempengaruhi hewan. Selain hewan, sejumlah spesies tanaman juga mengalami penyusutan ukuran. Ironisnya, tumbuhan yang terkena dampak adalah tumbuhan yang biasa memasok nutrisi penting bagi miliaran manusia.

Jennifer Sheridan dan David Bickford, peneliti dari National University of Singapore (NUS) mengamati literatur ilmiah seputar tahapan perubahan iklim yang terjadi jauh di masa lalu dan membandingkannya dengan situasi yang terjadi di beberapa beberapa waktu setelahnya.

Dari catatan fosil yang ditemukan, ternyata kenaikan temperatur di masa lalu telah membuat organisme air dan darat menjadi semakin kecil. Saat Bumi menghangat pada 55 juta tahun lalu, kumbang, lebah, laba-laba, tawon dan semut menyusut ukurannya antara 50 sampai 75 persen dalam kurun waktu beberapa ribu tahun. Mamalia seperti tupai dan tikus juga menyusut sekitar 40 persen.

Sejumlah penyusutan tersebut ternyata mengejutkan. "Tumbuhan diperkirakan malah bertambah besar dengan meningkatnya karbon dioksida di atmosfer," sebut kedua peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Climat Change. "Tetapi ternyata banyak yang pertumbuhannya malah terhambat karena perubahan temperatur, kelembaban dan ketersediaan nutrisi," katanya.

Berhubung pemanasan global bergerak pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, peneliti menyebutkan, banyak organisme yang mungkin tidak mampu merespons ataupun beradaptasi dengan cepat.

"Kami belum mengetahui secara pasti mekanisme apa saja yang terlibat atau mengapa sebagian organisme menciut dan yang lain tidak terpengaruh," sebut peneliti. "Sampai kita memahami lebih lanjut, kita berpotensi memperparah kondisi yang belum dapat kita perkirakan ini."

sumber:nationalgeographic

Berkat Enzim, Panda Raksasa Tinggalkan Daging dan Makan Bambu





Panda raksasa, hewan yang menjadi ciri khas negeri China ternyata tidak begitu saja mengonsumsi bambu. Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, ada mikroorganisme di usus mereka yang membantu mencerna tumbuhan itu meski usus mereka sebenarnya lebih cocok untuk makan daging.

Di dunia satwa, panda (Ailuropoda melanoleuca) merupakan hewan yang paling pilih-pilih dalam urusan makanan. Di alam bebas, mereka makan lebih dari 12 kilogram bambu setiap hari dan hanya sedikit mengonsumsi makanan lain. Mereka perlu makan sebanyak itu karena meski bambu mengandung protein, gula, lemak, dan nutrisi lain, sebagian besar kalorinya terkunci di serat selulosa yang sulit dicerna.

Dari sebuah penelitian terhadap dua ekor panda, diketahui bahwa 92 persen selulosa dan 73 persen hemiselulosa pada bambu yang dimakan panda hanya ‘numpang lewat’ dan berakhir di feses.

Sebagian besar herbivora mengembangkan cara untuk memecah selulosa menjadi gula. Sebagai contoh, sapi dan hewan lain memiliki sistem pencernaan rumit yang memiliki beberapa perut yang penuh dengan mikroba. Mereka mencerna berkali-kali untuk mengekstrak nutrisi dalam jumlah maksimal.

Namun panda merupakan beruang, hewan yang umumnya mengonsumsi daging dan tidak memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna selulosa atau memiliki mikroba seperti hewan herbivora. Dari survey terhadap usus panda, ternyata hewan itu punya mikroorganisme yang sama seperti beruang hitam, beruang kutub, dan pemakan daging lainnya.

Fuwen Wei, ekolog dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences di Beijing kemudian memperhatikan lebih lanjut mikroba yang hidup di dalam usus panda. Mereka mengumpulkan sampel dari 7 ekor panda liar di pegunungan Qinling dan Xiangling di China tengah dan barat, serta 8 ekor panda yang ada di penangkaran untuk diteliti DNA, bakteria dan juga gen mikrobial yang ada di usus mereka.

Meski panda liar dan panda yang ada di penangkaran mengonsumsi makanan serta punya gaya hidup yang berbeda (panda di penangkaran memakan lebih beragam makanan termasuk buah dan susu), mereka cenderung memiliki spesies mikroba yang sama di ususnya. Kedua kelompok beruang itu punya enzim yang memecah selulosa menjadi gula yang lebih sederhana.

Enzim mikrobial itu membantu panda mengekstrak energi lebih banyak dari sedikitnya jumlah bambu yang berhasil mereka proses. Mikroba ini merupakan bagian dari adaptasi evolusioner, selain rahang dan gigi yang kuat, jari dan tulang yang memungkinkan mereka mencengkram tangkai, yang membantu panda hidup hanya dari bambu meski mereka punya sistem pencernaan hewan karnivora.

Meski demikian, Ruth Ley, mikrobiolog dari Cornell University, New York menyebutkan, panda juga punya enzim pencerna selulosa yang lebih sedikit dibandingkan spesies herbivora non eksklusif seperti manusia.

“Kami melihat panda sebagai hewan yang beradaptasi dengan buruk. Cara utama bagaimana panda beradaptasi terhadap makanan berkualitas rendah bukanlah lewat mikrobiota seperti sebagian besar hewan lain, tetapi dengan cara makan terus menerus selama 15 jam per hari,” ucapnya.

Sumber: Scientific American, Nature,http://nationalgeographic.co.id

Selasa, 18 Oktober 2011

Manfaat dau sirsak untuk penyakit kanker




Selama ini tanaman sirsak dimanfaatkan masyarakat hanya dari buahnya saja. Rasanya yang manis agak keasam-asaman memberikan sesasi rasa yang segar. Oleh masyarakat buah sirsak sering dibuat makanan seperti selai sirsak ataupun jus sirsak dengan rasa yang khas. Namun ternyata bukan hanya sensasi rasanya saja yang membuat sirsak banyak diburu. Kandungan buah sirsak yang baik untuk kesahatan, membuat banyak orang yang ingin mengonsumsinya. Seperti apa manfaat sirsak untuk kesehatan tubuh?

Dalam bahasa latin tanaman sirsak disebut dengan Anona Muricata Linn yang merupakan kerabat dari tanaman srikaya (Anona Squamosa Linn). Tanaman ini berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis. Seperti peru, meksiko dan Argentina. Sirsak sampai ke Indonesia di bawa oleh pedagang spanyol, tetapi kata sirsak sendiri berasal dari bahasa Belanda. Dari kata Zuurzak dimana Zuur berarti asam, sedangkan Zak berarti kantong, atau dalam arti harfiah dinyatakan sebagai kantong yang rasanya asam.

Rasa asam pada buah sirsak berasal dari asam organik nonvolatile, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat. Di dalam buah sirsak terdapat kandungan vitamin C, yang merupakan kandungan vitamin yang paling besar dari pada vitamin lainnya. Kandungannya sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Sebaliknya, kandungan lemak pada buah sirsak merupakan bagian terkecil dari semua kandungan yang dapat dimanfaatkan, yakni hanya sebesar 0,3 g per 100 gram sirsak.

Kebutuhan vitamin C rata-rata orang Indonesia adalah sebesar 60 mg per hari, sehingga hanya membutuhkan 300 gram saja untuk memenuhi semua kebutuhan vitamin C tubuh.

Kandungan vitamin C yang tinggi ini membuat buah sirsak sangat baik dimanfaatkan sebagai obat awet muda dan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Karena vitamin C merupakan antioksidan yang baik bagi tubuh manusia. Disamping itu, sirsak juga mengandung kadar sodium (natrium) yang rendah tetapi mengandung potasium (kalium) yang tinggi, sehingga sirsak dapat sebagai penawar penyakit hipertensi.

Yang tidak perlu diabaikan pula adalah tingginya kandungan serat pada buah sirsak. Sirsak mempunyai kandungan serat yang notabene berfungsi untuk menjaga kelancaran kerja saluran cerna sehingga bermanfaat untuk menjamin kelancaran proses buang air besar.

Manfaat Sirsak

Tanaman sirsak memiliki banyak khasiat, baik yang melalui pengolahan terlebih dahulu maupun yang tidak. Bagian tanaman mulai dari daun sirsak sampai akar sirsak mempunyai manfaat yang banyak dan berbeda-beda.

Biji dan daun sirsak bisa dipakai sebagai umpan untuk membunuh ikan. Serbuk daunnya efektif untuk membasmi cacing. Sementara itu, serbuk itu pula dan minyak yang terkandung dalam biji sirsak juga ampuh untuk membasmi kutu dan serangga kecil lainnya.

Ketika terjadi bisulan, ambillah daun sirsak secukupnya, diremas-remas untuk kemudian ditempelkan di area bisul. Remasan dun ini membuat bisul menjadi cepat matang. Remasan daun juga bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit rematik dan bebagai macam penyakit kulit. Namun pada luka yang sudah terlalu dalam dan berpeluang terjadi infeksi, sebaiknya tidak mengandalkan pengobatan dengan daun sirsak saja.

Rebusan daun. Rebusan daun sirsak dapat dipakai untuk mengatasi gangguan saluran pencernaan dan mampu mengatasi kelelahan. Yang cukup heran adalah manfaat daun sirsak sebagai obat penenang dan penimbul rasa kantuk dengan hanya meletakkan daunnya di tepi bantal sesaat sebelum tidur.

Anti Kanker

Penelitian di Laboratorium Healt Sciences Institute, Amerika Serikat di bawah pengawasan The National Cancer Institute mendapati bahwa di dalam daun sirsat terdapat kandungan Zat Annonaceous Acetoganins yang mampu membunuh sel-sel kanker 10.000 kali lebih kuat daripada Zat Adriamycin yang biasa digunakan dalam pengobatan kemoterapi. Zat Acetogenins dapat membunuh berbagai macam kanker, antara lain kanker usus, tiroid, prostat, paru-paru, payudara, pankreas hingga penyakit ambeien.

Terapi kanker dengan daun sirsak tidak menimbulkan efek samping seperti kerontokan rambut, penurunan berat badan, rasa mual dan muntah seperti pengobatan kanker yang selama ini dilakukan. Pengobatan ini tergolong sangat aman pula karena tidak mengganggu kehidupan sel-sel sehat disekitar sel-sel kanker tersebut.

Cara Pengolahan

Cara pengolahan daun sirsak sebagai obat herbal atasi kanker yang dijelaskan oleh Darmawan Tri Wibowo, ahli budidaya tanaman sirsak dari Taman Wisata Mekarsari adalah sebagai berikut :

Untuk pengobatan kanker. 5 sampai 10 lembar daun sirsak direbus dengan 3 gelas air atau 600 ml hingga sisakan 1 gelas air rebusan saja. Kemudian diminum selagi hangat setiap hari dua kali, siang dan sore selama 3 sampai 4 bulan. Dalam perebusan sebaiknya tidak menggunakan kuali atau panci yang terbuat dari tanah liat, sebab tanah liat mampu menyerap zat-zat yang terkandung dalam daun rebusan. Ketika memilig daun untuk rebusan, sebaiknya dipilih yang tidak terlalu muda ataupun terlalu tua.

Pembuatan obat herbal ini juga dapat menggunakan daun sirsat kering. 10 sampai 15 daun sirsat kering direbus hingga tersisa 1 gelas saja. Kemudian diminum. Daun sirsat kering dan basah mempunyai kandungan manfaat yang sama selama proses pengeringannya tidak dilakukan dibawah sinar matahari. Cukup diangin-anginkan saja.

Daun sirsat basah juga bisa diolah menjadi ekstrak daun, caranya? Pilih 3 sampai 5 daun, kemudian di blender dengan ¼ air hangat. Hal ini dilakukan agar daun sirsat berubah menjadi partikel-partikel kecil sehingga lebih mudah diekstrak. Caranya? Tuang air panas ke dalam hasil blender, tutup rapat dan diamkan 15 sampai 20 menit agar proses ekstraksi sempurna. Lalu saring dan diminum.

Konsumsi daging buah sirsat segar 150 sampai 250 g per hari untuk menambah daya tahan tubuh, penambah energi dan memperlancar pembuangan sel-sel kanker yang telah mati.

Efek Samping

Sebenarnya efek samping yang disebabkan obat herbal daun sirsat tidaklah banyak dan mengganggu kesehatan. Biasanya hanya agak berkeringat, sering buang air kecil dan hangat pada bagian tubuh yang sakit. Untuk penderita maag, diharapkan lebih berhati-hati, karena buah sirsat dapat meningkatkan asam lambung. Jika Anda ingin mengonsusinya, kukus daging sirsat agar kandungan asamnya berkurang. Namun tidak untuk daun sirsat.

Demikian manfaat sirsak untuk kesehatan tubuh, apabila tidak ada kemajuan setelah 2 minngu terapi dengan menggunakan daun sirsak, ada baiknya selalu konsultasi dengan dokter untuk mendapat informasi yang lebih tepat untuk kesehatan Anda.

sumber informasi:http://infowanitakarirt.com

Senin, 17 Oktober 2011

Lutung Jawa atau "trachypithecus auratus" Di Gunung Panderman terancam punah




Lutung Jawa atau "trachypithecus auratus" yang hidup di hutan lindung Gunung Panderman di Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur, terancam punah karena hutan tempat mereka berlindung terbakar sejak Kamis (13/10) sore.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid pada Sabtu menjelaskan, berdasarkan data ProFauna populasi luntung jawa di wilayah itu sekarang tinggal 20 ekor, dari 50 ekor pada tahun 1990.

Dengan adanya kebakaran hutan, populasi lutung jawa akan semakin terancam punah, akibat populasinya semakin terdesak dengan pemukiman penduduk ditambah musibah kebakaran hutan.

"Sebagian besar binatang yang hidup di kawasan hutan lindung Gunung Panderman akan lari ke pemukiman penduduk akibat kebakaran ini, dan mereka kebanyakan tidak bisa selamat apabila lari ke pemukiman, sehingga terdesak," katanya.

Selain lutung jawa, Rosek mengaku, juga ada sejumlah binatang langka lainnya yang populasinya juga terancam punah akibat kebakaran hutan yang melanda kawasan hutan lindung Gunung Pandeman.

Seperti, Kucing Hitam (Black Cat), Elang Pitu, Jelarang (tupai), Landak serta Macan Loreng. "Semua binatang itu akan lari ke pemukiman akibat kebakaran hutan, dan di wilayah pemukiman bisa terjadi konflik antara manusia dengan binatang itu," katanya.

Sementara, asap yang timbul akibat kebakaran hutan juga bisa menyebabkan sejumlah binatang langka itu mempunyai kelainan sikap, sehingga diperlukan upaya konservasi dari pemerintah.

Oleh karena itu, Rosek berharap, aparat terkait bisa segera melakukan pemadaman kebakaran hutan secepatnya, sehingga tidak mengganggu bintang langka yang hidup di kawasan hutan lindung Gunung Panderman.

"Hingga kini, memang belum ada laporan masuk dari penduduk mengenai satwa-satwa itu yang muncul akibat kebakaran, namun kita harapkan petugas bisa secepatnya memadamkan kobaran api yang masih tersisa," katanya.

Sebelumnya, kebakaran yang terjadi sejak Kamis (13/10) sore di kawasan hutan lindung, Gunung Panderman, Dusun Srebet, Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu, hingga hari ini mencapai 100 hektare.

Ketua Tim Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Batu, Simon Purwo Ali mengatakan, kondisi kebakaran yang terjadi kini semakin meluas, dari awalnya 70 hektare pada Jumat (14/10), dan kini menjadi 100 hektare.

Namun, sedikitnya 90 persen api yang membakar hutan lindung itu telah berhasil dipadamkan, dan hanya tersisa 10 persen dari total 100 hektare hutan yang terbakar di kawasan Dusun Srebet.

sumber;Antara news.com

Penyelundupan trenggiling rugikan negara Rp38,45 miliar





Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat negara setidaknya dirugikan sekitar Rp38,45 miliar karena penyelundupan trenggiling.

Menurut Direktur Penyidikan dan Pengamatan Hutan Kemenhut, Raffles Panjaitan selama 2006-2011 telah terjadi peredaran illegal trenggiling di beberapa propinsi.

"Trenggiling itu binatang langka, sehingga tidak ada permitnya. Semua bentuk perdagangan trenggiling itu illegal," katanya.

Menurut data Kemenhut, selama lima tahun terakhir terjadi sebanyak 587 kasus, 35 di antaranya kasus penyelundupan trenggiling di beberapa propinsi seperti Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Lampung dan Jakarta.

Untuk tahun 2011 sendiri, per Oktober sudah ada 5 kasus penyelundupan di Cengkareng, Tanjung Priuk, dan Belawan. Negara diperkirakan rugi sampai Rp15,3 miliar. Tiga kasus itu sedang disidik dan dua di antaranya sudah masuk proses hukum.

Dikatakan, trenggiling diburu untuk dimanfaatkan daging, sisik, empedu dan hatinya. Menurut kepercayaan masyarakat China, daging dan bagian tubuh tersebut dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional. Sementara itu, sisik trenggiling bisa dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, sapu ijuk dan narkotika.

Sementara di pasar lokal, harga trenggiling berkisar Rp300-Rp400 ribu untuk berat 5-7 kg per ekor. Kemudian untuk sisik trenggiling bisa mencapai Rp 400 ribu per kg.

"Sedangkan di pasaran internasional, harga daging trenggiling mencapai 112 dolar AS per kg dan sisik trenggiling mencapai 400 dolar per kg," katanya.

Menurut Raffles, pelaku penyelundupan hewan diancam dengan pasal 21 ayat 2 UU No.5 tahun 1990 yang menyebutkan tiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, dan memperdagangkan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati dengan ancaman pidana kurungan 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Trenggiling merupakan jenis mamalia yang masuk dalam jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Binatang ini hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Makanannya adalah serangga seperti rayap dan semut. Daerah habitat penyebaran trenggiling, antara lain di Riau, Kalimantan dan Jawa.

sumber;http://www.antaranews.com

Elang Filipina (Pithecophaga jefferyi) Terancam Punah






Seekor elang Filipina (Pithecophaga jefferyi) yang jumlahnya hanya tersisa beberapa ratus ekor saja di seluruh dunia, ditemukan tewas. Elang betina berusia 2 tahun itu ditemukan warga setempat dengan peluru di dalam tubuhnya, di sebuah hutan kawasan selatan pulau Mindanao, Filipina.

Burung pemangsa yang sering disebut dengan "elang pemakan monyet" tersebut merupakan elang raptor berukuran 1 meter dan hanya bisa dijumpai di Filipina. Jumlahnya terus menyusut akibat pemburuan liar dan penebangan hutan yang menjadi tempat tinggalnya.

Warga yang menemukan hewan sang elang segera mengembalikannya ke Dennis Salvador, ketua Philippine Eagle Foundation karena mendapati adanya radio transmitter yang dipasang di tubuh elang itu. “Meski kami sudah berupaya keras, jika ada seseorang yang memegang senjata memutuskan untuk menembaknya, ia dengan mudah memusnahkan segala yang pernah kami kerjakan,” ucap Salvador.

Salvador menyebutkan, elang dari spesies tersebut, yang merupakan elang paling besar dan paling kuat di seluruh dunia, bisa punah dalam 20 tahun ke depan jika tidak ada upaya yang lebih keras untuk melindungi elang dan habitatnya. Elang yang tewas ini sebelumnya pernah ditangkap oleh seorang petani saat sedang berupaya untuk memangsa anjing peliharaannya pada Mei 2010 lalu. Ketika itu, oleh sang petani, elang yang terluka ini kemudian diserahkan ke Eagle Foundation untuk diobati dan kemudian dilepaskan kembali ke alam bebas setelah sehat dan dipasangi pemancar radio untuk dipantau.

Menurut data International Union for the Conservation of Nature, elang ini masuk ke kategori ‘sangat terancam’ dan diperkirakan hanya tersisa 670 ekor saja yang masih hidup, sementara The Philippine Eagle Foundation baru-baru ini melepaskan enam ekor elang, baik yang lahir di penangkaran ataupun mendapatkan pengobatan setelah terluka. Sayang, empat di antaranya kemudian tewas dengan tiga ekor terkena luka tembak.

Pithecophaga jefferyi sendiri merupakan burung lambang negara Filipina. Pemburuan dan penangkapan hewan ini merupakan pelanggaran hukum, namun menurut Salvador, orang-orang masih tetap melakukan penembakan terhadap elang tersebut untuk dimakan ataupun sekadar untuk sport.
Sumber:http://nationalgeographic.co.id

Kementerian PU Gandeng Pemda Dalam Menciptakan Kota Hijau



Kementerian Pekerjaan Umum akan memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan rencana aksi mewujudkan kota hijau. Program Pengembangan Kota Hijau untuk mendorong kualitas tata ruang kota agar responsif terhadap perubahan iklim tersebut akan dimulai tahun depan.

Sebanyak 60 pemda dari sekitar 150 kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah (perda) tentang rencana tata ruang wilayah sudah menyampaikan komitmen ikut program kota hijau.

Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU Imam Santoso Ernawi menerangkan, pihaknya meminta keenam puluh pemda ini membuat Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) yang memuat prakarsa dan program daerah sebagai langkah awal mewujudkan kota hijau. Inisiatif ini juga dapat diposisikan dalam konteks implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

"Pertumbuhan kota pesat secara langsung berimplikasi terhadap timbulnya berbagai permasalahan seperti kemacetan, banjir, permukiman kumuh, kemiskinan, serta menurunnya luasan ruang terbuka hijau. Kebutuhan atas ruang terbuka hijau dalam porsi yang memadai di perkotaan menjadi sangat penting. Ditambah lagi masalah perubahan iklim, yang menuntut kita semua untuk memikirkan secara lebih saksama sebuah gagasan yang dituangkan ke dalam kebijakan dan program yang lebih komprehensif sekaligus realistis sebagai solusi," katanya.

Saat ini penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan sudah mencapai 52 persen. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat hingga 68 persen pada 2025.

Menurut Imam, pada tahap awal ada tiga atribut yang wajib dipenuhi dalam pengembangan kota hijau. Pertama menyiapkan rencana dan desain yang sensitif terhadap agenda hijau, kedua peran serta masyarakat dalam pengembangan kota (green community), dan ketiga perwujudan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30 persen dari luas wilayah kabupaten/kota.

RTH 30 persen itu sebenarnya sudah diamanatkan di dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 30 persen area itu terdiri atas 20 persen ruang terbuka hijau publik dan 10 persen ruang terbuka hijau privat.

Sementara Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, Budi Yowono, mengutarakan hingga sekarang belum ada kota di Indonesia yang berpredikat kota hijau. Padahal penciptaan kota hijau diharapkan dapat menjadi salah satu jalan keluar bagi pengurangan emisi gas rumah kaca

sumber;http://nationalgeographic.co.id

Minggu, 16 Oktober 2011

Kuda Laut Mulai Masuk ke Sungai


Pengamat kehidupan satwa liar asal Inggris menyatakan bahwa mereka mendapati sebuah koloni kuda laut langka yang biasanya hidup di kawasan Mediterranean atau Laut Tengah di Sungai Thames.

Penampakan kuda laut itu terjadi saat peneliti melakukan survei rutin di kawasan Greenwich. Dari pemantauan, diperkirakan ada populasi permanen dari spesies tersebut di Inggris. Petugas badan lingkungan hidup menyebutkan, kuda laut itu kemungkinan juga beranak pinak di sungai tersebut.

Kuda laut bermoncong pendek yang bisa tumbuh hingga sepanjang 15 sentimeter ini memang kadang dijumpai di perairan lepas pantai Inggris. Namun belum pernah didapati bahwa mereka masuk sampai jauh ke dalam lewat sungai.


“Kuda laut yang kami temukan masih kecil. Ini mengindikasikan bahwa mereka dilahirkan di sekitar kawasan tersebut,” kata Emma Barton, seorang petugas dari Environment Agency. “Ini merupakan pertanda yang bagus bahwa populasi kuda laut, tidak hanya meningkat, tetapi juga menyebar ke lokasi-lokasi di mana mereka tidak pernah ditemukan sebelumnya,” ucapnya.

Emma menyebutkan, pihaknya berharap bahwa perbaikan terhadap kualitas air dan habitat di Sungai Thames akan menarik lebih banyak spesies langka seperti ini untuk menjadi penghuni tetap sungai tersebut.

Sumber:http://nationalgeographic.co.id

ASEAN Rickshaw Run Akan Dibuka




D
ua puluh delapan tim dari 12 negara akan mengikuti ASEAN Rickshaw Run, mengemudikan rickshaw atau becak motor dari Jakarta sampai Bangkok, Thailand yang dibuka hari Minggu (16/10).

ASEAN Rickshaw Run merupakan acara yang bertujuan menggalang dana bagi konservasi hutan di Sumatea yang menjadi wilayah kerja Birdlife International, sebuah organisasi konservasi independen berbasis keanggotaan dan jaringan.
Peserta secara total terdiri atas 66 orang, dan akan menempuh jarak kurang lebih 3.000 kilometer.

Titik mula ASEAN Rickshaw Run ini dimulai di Sekretariat ASEAN Jakarta, kemudian bakal bergerak ke arah barat dan Sumatra menuju Belawan (Sumatra Utara), menyeberangi Selat Malaka ke Penang (Malaysia), dan dari Penang akan melewati utara daratan melalui Satun (Thailand) dan finish di Bangkok (Thailand) diperkirakan pada tanggal 30 Oktober 2011 mendatang.
sumber berita:http://nationalgeographic.co.id

Senin, 19 September 2011

Sambut Hutan Kota Dunia, Warga Bersihkan Baksi

Sambut 
Hutan Kota Dunia, Warga Bersihkan Baksil
Bandung Creative Community Forum (BCCF) bersama komunitas-komunitas lainnya membersihkan Babakan Siliwangi (Baksil) dari sampah-sampah konsumen, Minggu (18/9/2011). - inilah.com/ageng rustandi
Oleh: Ageng Rustandi
Jabar - Minggu, 18 September 2011 | 11:32 WIB
berita terkait

INILAH.COM, Bandung - Bandung Creative Community Forum (BCCF) bersama komunitas-komunitas lainnya membersihkan Babakan Siliwangi (Baksil) dari sampah-sampah konsumen, Minggu (18/9/2011).

Ketua BCCF Ridwan Kamil menuturkan, kegiatan bersih-bersih Baksil dari sampah-sampah konsumen dilakukan untuk menyambut pelaksanaan konferensi lingkungan internasional 'TUNZA International Children and Youth Conference On the Environment 2011' yang akan digelar mulai Selasa (27/9/2011) mendatang.

"Jangan sampai pada saat pelaksanaan konferensi masih ada sampah di sekitar Baksil. Kalau masih banyak sampah kan jadi memalukan. Kita juga gak mau Baksil batal menjadi hutan kota dunia akibat sampah," ujar Ridwan saat ditemui di Baksil, Jalan Siliwangi Kota Bandung, Minggu (18/9/2011).

Pada kegiatan tersebut, BCCF mengandeng beberapa komunitas di Kota Bandung. Seperti komunitas foto, sundawani, arsitek dan komunitas yang tergabung dalam BCCF.

"Dari awal konsep menjadikan baksil sebagai hutan kota basisnya dari warga. Dan hari ini warga pula yang membersihkan Baksil, jumlahnya mencapai 200 orang," tambahnya.

Kegiatan bersih-bersih ini, lanjutnya, tidak hanya digelar menjelang pelaksanaan TUNZA International Children and Youth Conference On the Environment 2011. Rencananya, kegiatan serupa akan dilaksanakan secara berkala minimal dalam satu bulan sekali.

"Harapannya kegiatan ini menjadi tradisi warga Bandung dalam menjaga hutan kota Baksil. Selain itu, kesadaran masyarakat kota Bandung bisa lebih baik," tegasnya. [gin]
sumber berita:http://www.inilahjabar.com

BeberapaSatwa Dilepas di Babakan Siliwangi

Bandung Creative Community Forum (BCCF) bersama komunitas warga kota
Bandung melepas sejumlah satwa di Babakan Siliwangi (Baksil). - inilah.com/ageng rustandi

Sejumlah Satwa Dilepas di Babakan Siliwangi

Oleh: Ageng Rustandi
Jabar - Minggu, 18 September 2011 | 12:16 WIB
berita terkait

INILAH.COM, Bandung - Bandung Creative Community Forum (BCCF) bersama komunitas warga kota Bandung melepas sejumlah satwa di Babakan Siliwangi (Baksil).

"Ini untuk menciptakan ikatan emosional antara komunitas-komunitas dengan hutan kota Baksil. Jadi mereka pun merasa memiliki," ujar Ketua BCCF Ridwan Kamil saat ditemui wartawan di Baksil, Jalan Siliwangi Kota Bandung, Minggu (18/9/2011).

Satwa yang dipilih, lanjutnya, disesuaikan dengan kondisi alam di Baksil. Berdasarkan saran berbagai pihak, dipilih burung dan tupai.

"Hari ini, Minggu (19/8/2011) kita melepas belasan ekor burung berbagai jenis seperti piit bondol, kacamata dan manyar serta tiga ekor tupai di Baksil yang diwakili oleh komunitas foto kota Bandung," terangnya.

Kegiatan melepas satwa fauna di areal hutan kota Baksil, direncanakan dilakukan setiap satu minggu satu kali atau paling lambat sebulan sekali. Dengan demikian, hutan kota tidak hanya rimbun oleh pepohonan belaka, namun terdapat juga satwa yang menghuninya.

"Hutan kota itu harus ditata tidak hanya rimbun tapi juga lebih banyak suara-suara burung dan fauna lain. Dengan dilepas oleh komunitas diharapkan terjadi ikatan batin sehingga ikut menjaga kelestariannya," tegasnya. [gin]
sumber berita:http://www.inilahjabar.com

Sabtu, 10 September 2011

Persiapan pendakian

 
  
Persiapan pendakian

Banyak remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik.Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.

Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu tergila-gila naik gunung. *Because it is there, *ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.

Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung.

Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah modal nekad dalam mendaki gunung.

Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik.

Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.

Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.

Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.

Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.

Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max).
Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot. Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak,apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak,sebaiknya ditinggalkan.

Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu , pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah. Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.

Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.

Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.

Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di luar ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang. Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah). Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.

Prinsip pengepakan barang dalam ransel.
1. Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.
2. Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan(seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.
3. Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras.

Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:
a. pakaian dan kantung tidur,
b. alat memasak,
c. tenda,
d. makanan.

Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan.



Selasa, 16 Agustus 2011

Qiva-Tiara, Anggota Paskibraka Asal Jatim



Selasa, 16/08/2011 | 10:03 WIB
SP/Iman Widyanto
QIVA Chandra Mahaputera Meizon Yusman dan Tiara Charissa Harahap


Puasa, Perjuangannya makin terasa bung!

Bertepatannya peringatan kemerdekaan Republik Indonesia dengan bulan Ramadan, memberi nilai lebih bagi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) nasional yang berlatih di Cibubur, Jakarta Timur. Bukan menjadi letoy (loyo,Red), anggota yang menjalankan puasa mengaku lebih bersemangat berlatih. Perjuangannya makin terasa bung!

Oleh: Iman Widiyanto

SUDAH dua tahun ini anggota Paskibraka nasional yang diambil dari perwakilan putra-putri berprestasi 33 provinsi di Indonesia (total 66 orang) menempa diri saat bulan Ramadan. Bahkan, mereka harus mengibarkan Sang Saka Merah-Putih kala puasa masih berlangsung. Keringnya tenggorokan serta keroncongannya perut malah dijadikan salah satu instrument mendisiplinkan diri untuk mencapai hasil maksimal di acara puncak, 17 Agustus nanti.

Bukti semangat itu tampak di anggota Paskibra perwakilan Jawa Timur. Qiva Chandra Mahaputera Meizon Yusmar (wakil putra ) Jatim tampak gagah dengan rambut cepak ala militer.Bahkan, pasca latihan, Senin (15/9) dia masih kuat menjawab dengan tegas pertanyaan Surabaya Post. “Siap Tidak”teriaknya saat ditanya apakah puasa menjadi kendala latihan.

Putra kelahiran Blitar 16 November 1993 lalu ini mengatakan latihan saat Ramadan malah membuat puasanya terasa makin cepat. “Mungkin karenas sibuk latihan, jadi tahu-tahu sudah bedug Magrib,” ujar sisiwa SMAN 1 Blitar ini.

Untuk diketahui, kegiatan pelatihan Paskibraka Nasional 2011 sendiri dilaksanakan mulai tanggal 20 Juli sampai 19 Agustus 2011.

Dia pun mengakui semangatnya berlebih karena dapat ‘doping’ dari dukungan keluarga dan rasa bangga menjadi wakil Jatim. Apalagi, sebagai putra Blitar dia memiliki ‘benang merah’ dengan sang proklamator, Soekarno yang dimakamkan di kota itu.”Banga deh pokoknya, apalagi nanti orangtua juga bisa ke istana negara saat peringatan HUT RI ke 66 di besok,” katanya sambil mengaku kangen karena sudah hampir sebulan tak bertemu bapak-ibunya.

Putra pertama pasangan Meizon Yusmar dan Norma Rachmawati ini masuk pada Kelompok 45 pasukan pengawal pembawa Bendera Pusaka. Diakuinya sejak SMP dia sudah menyukai dan mengikuti kegiatan Paskibraka di Blitar, jadi meski gugup, tapi dia optimis bisa mengendalikan diri dan melaksanakan tugas dnegan baik.

Hal senada diungkapkan Tiara Charissa Nasution (wakil putri) Jatim. Gadis kelahiran Surabaya 9 Agustus 1995 mengaku semangat sekali menunggu datangnya tanggal 17 Agustus. Ia terpilih di Kelompok 8 (Pasukan Inti pembawa dan pengibar Bendera Pusaka).

“Pokoknya tetap semangat, puasa bukan halangan, kita malah jadi makin merasakan perjuangan keras pejuang dulu,” kata putri tunggal pasangan Chairin Rhamadan Harahap dan Aswan, Sidoarjo ini.

Pelajar SMA Trimuti Sidoarjo mengatakan setiap hari mendapat pelatihan materi dasar umum seperti wawasan kebangsaan dan NKRI, manajemen organisasi, membangun kepemimpinan Pemuda, Kebijakan Pengembangan Pemuda dan Demokrasi serta deradikalisasi pemuda dalam membangun jiwa nasionalisme. Materi pendukung diantaranya masalah narkoba dan HIV/AIDS, bahaya pornografi di dunia maya dan etika pergaulan. “Tidah sekadar baris berbaris, banyak pengetahuan yang diperoleh. Semoga ini juga menambah amalan puasa,” katanya lagi.

Putri yang bercita-cita menjadi dokter hewan itu mengaku kendala selama karantina hanya saat pertama kali berkomunikasi dan penyesuaian dengan teman-teman dari seluruh perwakilan Indonesia. “Kendala kebiasaan. Tapi setelah dua-tiga hari sudah biasa deh, jadi temen semua,” katanya.

Terkait ‘demam panggung’ mengingat hari ‘H’ pelaksanaan tinggal menghitung jam, dia mengaku agak gugup. Tapi karena sudah ditempa setiap hari oleh pelatih, dia akan melakukan sebaik mungkin. “Ini bukan hanya untuk saya, keluarga atau provinsi Jatim, tapi untuk negeri ini jadi harus yang terabik,” katanya.

sumber berita: http://www.surabayapost.co.id

Atlet Nasional Yuni Astuti, Berakhir di Jalanan


Selasa, 12/04/2011 | 11:38 WIB

Oleh: Sri Rahayu

Hal yang tak mungkin diulang adalah waktu. Itulah penyebab rasa apatis Yuni Astuti (45), mantan atlet bulutangkis nasional era 80-an. Layaknya debu di jendela yang tersapu oleh laju angin, segala ketenaran yang dirasakannya semasa remaja lenyap pada sebuah insiden 1995.

Alunan lagu Too Much Heaven milik band asal Australia Bee Gees terdengar lembut dari olah vokal Yuni Astuti. Sejak setahun lalu ia dan Semut Indah Band mendapat tempat ‘resmi’di Panggung Gembira Stasiun Surabaya Kota. Ini setelah lima tahun lebih berpindah dari panggung ke panggung kampung, kafe dan club. Ibu dari tiga anak tersebut menjalani ‘karir’ sebagai seniman stasiun setelah kecelakaan kendaraan tahun 1995 yang melumpuhkan kaki kanannya. Namun, siapa sangka perempuan kelahiran Jakarta 2 Juni 1966 itu merupakan atlet bulutangkis yang meraih segudang prestasi. Seperti tahun 1985 membela DKI Jakarta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XI dan berhasil menggondol medali perak pada cabang bulutangkis ganda.

“Saya tidak pernah membayangkan akan berubah seperti ini. Dulu kehidupan sebagai atlet nasional sekarang di pengamen jalanan seperti ini,” ucap Yuni. Sudut matanya menyimpan kristal bening, yang mungkin telah habis tertumpah puluhan tahun yang lalu. Perasaan kecewa itulah yang kini membuatnya menjadi apatis terhadap dunia bulutangkis yang pernah melambungkan namanya di era 80-an. “Tapi, ya gimana lagi. Urip nrimo ing pandum,” ujarnya pelan.

Jebolan SMAN Ragunan tahun 1985 itu telah merombak total kehidupan sosialnya. Ia berangkat dari keluarga militer di Kartosuro, Solo, Jawa Tengah. Sejak kecil ia mengenal bulutangkis dari ayahnya yang anggota Kopassus. Sang ayah pada waktu itu melihat bulutangkis hanya sekadar hobi. Namun a tahun 1980, ketika Yuni berusia 13 tahun, berhasil menyabet juara II turnamen Bulutangkis Tunggal Puteri se-Kartosuro. Dari sana sang ayah mulai melihat bakat Yuni remaja dengan karir cerah. Hal itu dibuktikan satu tahun setelahnya, tepatnya tahun 1982, ia menjadi Juara I Bulutangkis Tunggal Taruna Puteri se-Jawa Tengah.

Bak gayung tersambut, prestasi bulutangkis yang melejit di Jawa Tengah mendapat respon baik dari pemerintah . Hingga membawa Yuni remaja memperoleh beasiswa di SMA Negeri Ragunan khusus olahragawan. “Kebetulan juga, pada saat itu ayah pindah tugas di Jakarta. Jadi, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Susi Susanti itu adik kelas saya, kami dulu satu kamar,” kenang perempuan berbadan ringkih itu. Ia dan Susi masuk di klub yang sama, yaitu Klub Jaya Raya.

Ibarat membuka air keran di sumur yang meluap. SMA Ragunan membawa segala karier yang memuncakkan namanya di dunia bulutangkis. Berbagai macam turnamen yang diadakan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DKI Jakarta berhasil menjadikannya bintang lapangan. Seperti tahun 1982, Yuni menjadi Juara III Bulutangkis Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jaya. Setahun setelahnya (1983), ia menjadi juara III tunggal, juara III ganda dan juara III ganda campuran Taruna PBSI DKI Jaya. Setelah itu (1984), sosok Yuni semakin melejit pada juara I ganda, juara II ganda dan juara III ganda campuran Taruna PBSI DKI Jakarta. Hingga akhirnya pada PON XI di DKI Jakarta (1985), Yuni semakin memantapkan diri setelah memperoleh medali perak cabang bulutangkis mewakili DKI Jakarta.

Setelah tamat dari SMA Ragunan, Yuni sempat bekerja di Bank Central Asia (BCA). Di tempat kerjanya, Yuni mendapat penghargaan dari BCA karena prestasinya di olahraga bulutangkis. Selain itu, ia juga sempat menjadi pelatih di Club Aqua Lawang. Mengingat prestasi yang demikian gemilang, memasuki tahun 90-an, Presiden Soeharto sempat menawarkan beasiswa polwan kepada Yuni. Mengikuti jejak saudara-saudaranya yang lebih dulu menjadi polisi.

“Manusia hanya mampu berencana saja. Tetap Tuhan yang menentukan. Ketika di puncak karir saya mengalami kecelakaan permanen. Akibatnya kaki kanan lumpuh,” kata Yuni. Ketika ditanya apakah tidak mencoba berobat atau meminta bantuan kepada pemerintah, Yuni mengaku pasrah. “Saya buang semua obat-obatan. Saya tidak percaya dokter dan obat. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan jika semua mimpi itu hilang dalam sekejab,” katanya dengan nada bicara yang agak meninggi.

Pengamen Jalanan

Layaknya terbangun dari mimpi di tengah malam. Yuni menyadari kehidupan ini bak putaran roda, ada kalanya berada di poros atas dan harus siap jika sewaktu-waktu berada di bawah tumpuan. Begitu semua karir yang dibangun ketika muda lenyap, Yuni berusaha untuk tetap menjalani hidup sesuai dengan garis Tuhan.

Namun, Yuni masih melihat peluang pada bakatnya yang lain: menyanyi. Usia 22 ia pindah ke Surabaya mengikuti orangtua yang pensiun militer. Mulailah ia menerima tawaran menyanyi di café, restoran, panggung hiburan dan club malam. Kemudian pada tahun 2010 ia mendapat izin resmi di Pagngung Gembira Peron Stasiun Surabaya Kota.

Tempat yang disediakan oleh UPTD Stasiun Semut gratis, namun mereka membayar Rp 500 ribu setiap bulan untuk biaya listrik. Sebenarnya, jika disebut panggung pun tidak memadahi. Tidak ada tatanan kayu yang tersusun tinggi, yang membedakannya dengan penonton. Alat-alat musik seperti gitar, bass, drum dan sound system di letakkan begitu saja di lantai peron. Tanpa alas kayu tinggi yang membedakannya dengan penonton.

Hasil dari menyanyi setiap hari mulai pukul 08.00-16.00, Yuni mendapat uang antara Rp 30 ribu -Rp 50 ribu. Uang itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan tiga putranya masing-masing Vemby Saputra (18), Elang Manda (16) dan Aldi Renata (12) serta membayar uang sewa rumah kos-kosan di Jl Sulung Utara. Suaminya, Choirul Anwar, juga seniman panggung gembira di Kapal Pelni.

Apakah dengan hasil itu cukup untuk segala kebutuhan keluarga, Yuni tidak langsung menjawab. Ia mengangguk pelan sambil terlontar komentar, “Alhamdulliah cukup. Nggak bisa lebih, tapi cukup,” ucapnya.

Di Panggung Gembira Stasiun Surabaya Kota, Yuni bergabung dengan ‘Semut Indah Band’. “Awal bergabung dengan band ini ketika pulang dari Pasuruan. Lantas ditawari oleh temen-temen bergabung. Ya sudah, aji mumpung aja,” ungkap Yuni. Pada group band itu, Yuni ‘menjabat’ sebagai vokalis.

Rutinitas menyanyi Yuni dimulai pukul 08.00-16.00 setiap hari Senin-Sabtu di Stasiun Surabaya Kota. Tambahan hari Minggu di Pasar Turi mulai pukul 16.30-20.00. “Masih ada tambahan lagi, setiap hari jumat pukul 16.00 main di Bungurasih. Nih, sebentar lagi kita berangkat. Nebeng KA Penataran,” ucapnya seraya tersenyum.*

Biodata

Nama : Yuni Astuti

Tempat, tgl lahir : Jakarta, 2 Juni 1966

Usia : 45 tahun

Pekerjaan : Seniman Panggung Gembira Stasiun Kota Surabaya

Suami : Choirul Anwar

Pekerjaan : Seniman Panggung Gembira Pelni

Anak:

- Vemby Saputra SMKN 2 Surabaya

- Elang Manda SMKN 4 Surabaya

- Aldi Renata SMPN 47 Surabaya

Riwayat Pendidikan:

SDN Kartosuro

SMPN Sawit Solo

SMAN Ragunan (Khusus Olahraga)

Prestasi:

- 1980-Juara II Bulutangkis Tunggal Putri Kartosuro

- 1981- Juara I Bulu Tangkis Tunggal Putri Kartosuro

- 1982- Juara I Atltelik Pelajar SMTA 1500 meter Puteri Kabupaten Sukoharjo

- 1982- Juara I Tunggal Taruna Puteri se-Jawa Tengah

- 1982-Juara III Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jaya

- 1983-Juara III Tunggal Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta

- 1983-Juara III Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta

- 1983-Juara II Ganda Campuran Taruna PBSI DKI Jakarta

- 1983-Juara I Ganda Campuran Putra/Puteri PBSI DKI Jakarta

- 1984-Juara II Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta

- 1984-Juara III Ganda Campuran Taruna PBSI DKI Jakarta

- 1984- Juara I Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta

- 1986- Juara I Bulutangkis Ganda PON Jakarta

sumber informasi:http://www.surabayapost.co.id/?mnu=b...800998ecf8427e

nasib olahragan yang berpreatasi kok selalu begini akhirnya tragis makanya sekarang banyak orang indonesia tdk mau jadi olahragawan

Senin, 15 Agustus 2011

Terancam Hilang, Mangrove Perlu Pengelolaan Serius



Copy_of_Tongke_tongke_Sinaji_Sulsel_2010_by_Nyoman.JPG

Mangrove mempunyai berbagai nilai dan manfaat bagi kehidupan dan lingkungan, tapi di sisi lain keberadaannya terancam oleh berbagai kegiatan manusia. Maka sudah selayaknya ekosistem ini mendapat perhatian serius dalam pengelolaan agar kerusakannya tidak semakin parah dan hilang.

“Pelaksanaan program nasional seperti pengelolaan ekosisitem mangrove harus menjadi suatu prioritas yang penting dan wajib melibatkan peran masyarakat luas termasuk swasta dan pemerintahan,” kata I. Nyoman Suryadiputra sebagai Direktur Wetlands Indonesia kepada beritabumi.or.id (28/9) menanggapi kondisi mangrove sebagai habitat penting bagi kehidupan di sekitarnya di Hari Habitat 4 Oktober ini.

Berbagai upaya pengelolaan habitat penting bagi flora fauna di dalamnya ini tidak hanya untuk memenuhi peningkatan target luas tutupan, mengurangi konversi kawasan mangrove tapi juga untuk mengatasi adanya dampak serius yang telah dan akan timbul akibat perubahan iklim (seperti hancurnya sarana prasarana publik).

Selama ini Wetlands Indonesia juga telah melakukan berbagai program pengelolaan. Di antaranya Program Kompetisi Pesisir di Indonesia 2000-2003 yang diikuti 26 LSM, berkaitan dengan penanaman mangrove di berbagai lokasi Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTT. Program Rehabilitasi Pesisir di Pemalang Jawa Tengah pada 1999 sampai dengan saat ini yang melibatkan sekitar 5 KSM dan 500,000 mangrove telah ditanam). Program Rehabilitasi Pasca Tsunami di Aceh & Nias pada 2005 – 2009 yang melibatkan sekitar 70 KSM dan LSM. Ada sekitar 2 juta mangrove dan tanaman pantai telah ditanam.

Program Offset Carbon di Serang, Teluk Banten pada 2009 – 2023 yang melibatkan 10 KK petambak miskin lahan. Ada sekitar 70.000 mangrove telah ditanam dan akan diteruskan hingga 2023. Program Penanggulangan Risiko Bencana /DRR di Sikka, NTT pada 2010-2011. Ada sekitar 100,000 mangrove tengah diproses untuk ditanam oleh kelompok masyarakat di Desa Rororeja dan Nangahale.

Menurut Data Wetlands Indonesia, luas hutan mangrove Indonesia ada beberapa sumber yang menyebutkan berbeda. Kementerian Kehutanan (2009) melaporkan, Indonesia memiliki 9,36 juta hektar (ha) hutan bakau (mangrove), tapi menurut World Atlas of Mangrove (2010), Indonesia memiliki hutan mangrove hanya 3,19 juta ha atau 20.9% dari total mangrove dunia. Dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km dan memiliki lebih dari 17.000 pulau, Indonesia dianugerahi dengan berbagai jenis ekosistem lahan basah pesisir (di antaranya ekosistem lamun, terumbu karang, mangrove, estuarine, dataran
lumpur dan lain-lain) yang merupakan habitat untuk berbagai jenis makhluk hidup atau organisme.

Unik, Rawan dan Penting

Nyoman mengatakan bahwa ekosistem hutan mangrove, memiliki karakterstik yang unik namun juga rapuh. Kawasan mangrove sangat penting dalam menjaga kawasan sekitarnya karena ia dapat mengikat lumpur sehingga mencegah abrasi pantai, mencegah intrusi air laut ke darat, melindungi garis pantai dan juga melindungi pemukiman di belakangnya dari terpaan gelombang dan badai. Contoh peran mangrove melindungi pemukiman dapat dilihat di Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Selain itu mangrove menjadi habitat berbagai satwa liar teresterial dan akuatik serta berfungsi sebagai tempat makan/berkembang biak/pemijahan biota perairan serta pengendali/mitigasi perubahan iklim (melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon). Satwa liat itu seperti burung - burung air, mamalia (seperti biawak), berbagai jenis ikan. Keberadaan hutan mangrove yang sehat juga memberikan kemampuan adaptasi bagi kegiatan-kegiatan maupun fasilitas umum di sekitarnya, terhadap perubahan iklim.

Beberapa kajian tentang simpanan karbon di hutan mangrove yang telah dewasa (umur sekitar 15-20 tahun) menunjukkan ada sekitar 500 ton CO2 eq/ha (above ground) dan sekitar 80 – 100 ton CO2 eq pada sistem perakarannya. Nilai ini akan menjadi lebih besar lagi jika materi organik yang tidak terurai tersimpan pada lantai hutan mangrove juga diperhitungkan.

Karena adanya alih fungsi mangrove oleh manusia, kawasan hutan bakau Indonesia kini luasnya telah menurun drastis, dari 5,21 ha (1982-1987) menjadi 3,24 ha dan kemudian menjadi 2,5 juta ha pada tahun 1993. Alih fungsi tersebut di antaranya untuk lahan pertanian dan perikanan, pembangunan sarana dan prasarana publik, penebangan untuk arang dan diambil kayunya, dan lain-lain. Selain itu, ekosistem ini juga mengalami berbagai tekanan lingkungan, misalnya dijadikan lokasi pembuangan limbah cair dan limbah padat, pemukiman, dan lain-lain.

Selain adanya alih fungsi dan tekanan lingkungan, eksositem mangrove (juga ekosistem pesisir lainnya) di Indonesia tengah mengalami tekanan oleh tingginya tingkat pemukiman di kawasan pesisir. Sekitar 140 juta atau 60% dari total penduduk Indonesia tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai dan tersebar di 42 kota dan 182 kabupaten.

Data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebutkan, kerusakan hutan mangrove di pesisir utara Jawa Bali mencapai 68 persen dari periode 1997-2003. Sebagai area pemijahan dan asuhan bagi ikan, udang, dan kerang-kerangan, mangrove memberi arti penting bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Untuk itu Kiara juga mendesak pemerintah untuk menyegerakan upaya pemulihan kawasan pesisir.

Abdul Halim, Koordinator Program Kiara menyatakan, rusaknya ekosistem mangrove disebabkan oleh limbah antropogenik daratan di sekitar pantai, khususnya limbah industri. Juga akibat konversi lahan pantai untuk kepentingan industri, kawasan perniagaan, dan permukiman mewah. Buangan limbah yang kian masif ini berdampak pada hancurnya ekosistem mangrove dan kian sulitnya nelayan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Apalagi ada kenaikan TDL yang berdampak pada tingginya harga sembako,” katanya dalam siaran pers Juli lalu.

Menurutnya, hingga 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan pemulihan kawasan pesisir seluas 1.440 hektar (ha) dari kerusakan lingkungan di sepanjang pantai nasional. Dari target 2014 seluas 1.440 ha, diharapkan capaian per tahunnya mencapai 401,7 persen.

“Besaran target yang dipatok harus dibarengi dengan kesungguhan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam melaksanakan program. Kesungguhan ini bisa diwujudkan jika program yang dijalankan tidak berpangku pada ketersediaan anggaran semata, melainkan pada tujuan mulia program, yakni mengembalikan fungsi-fungsi ekologis dan sosial ekosistem pesisir. Dalam kondisi inilah, partisipasi nelayan dan masyarakat pesisir penting untuk dilibatkan,” papar Halim.

Sementara itu dari data Wetlands Indonesia, kawasan mangrove yang relatif masih baik dapat dijumpai di Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan (Sumsel), sekitar 200.000 ha, meski saat ini perambahan untuk tambak juga sudah cukup banyak di bagian bufferzonenya dekat pantai.

sumber informasi
:
http://www.beritabumi.or.id

Pages