Selasa, 12/04/2011 | 11:38 WIB Oleh: Sri Rahayu
Hal yang tak mungkin diulang adalah waktu. Itulah penyebab rasa apatis Yuni Astuti (45), mantan atlet bulutangkis nasional era 80-an. Layaknya debu di jendela yang tersapu oleh laju angin, segala ketenaran yang dirasakannya semasa remaja lenyap pada sebuah insiden 1995.
Alunan lagu Too Much Heaven milik band asal Australia Bee Gees terdengar lembut dari olah vokal Yuni Astuti. Sejak setahun lalu ia dan Semut Indah Band mendapat tempat ‘resmi’di Panggung Gembira Stasiun Surabaya Kota. Ini setelah lima tahun lebih berpindah dari panggung ke panggung kampung, kafe dan club. Ibu dari tiga anak tersebut menjalani ‘karir’ sebagai seniman stasiun setelah kecelakaan kendaraan tahun 1995 yang melumpuhkan kaki kanannya. Namun, siapa sangka perempuan kelahiran Jakarta 2 Juni 1966 itu merupakan atlet bulutangkis yang meraih segudang prestasi. Seperti tahun 1985 membela DKI Jakarta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XI dan berhasil menggondol medali perak pada cabang bulutangkis ganda.
“Saya tidak pernah membayangkan akan berubah seperti ini. Dulu kehidupan sebagai atlet nasional sekarang di pengamen jalanan seperti ini,” ucap Yuni. Sudut matanya menyimpan kristal bening, yang mungkin telah habis tertumpah puluhan tahun yang lalu. Perasaan kecewa itulah yang kini membuatnya menjadi apatis terhadap dunia bulutangkis yang pernah melambungkan namanya di era 80-an. “Tapi, ya gimana lagi. Urip nrimo ing pandum,” ujarnya pelan.
Jebolan SMAN Ragunan tahun 1985 itu telah merombak total kehidupan sosialnya. Ia berangkat dari keluarga militer di Kartosuro, Solo, Jawa Tengah. Sejak kecil ia mengenal bulutangkis dari ayahnya yang anggota Kopassus. Sang ayah pada waktu itu melihat bulutangkis hanya sekadar hobi. Namun a tahun 1980, ketika Yuni berusia 13 tahun, berhasil menyabet juara II turnamen Bulutangkis Tunggal Puteri se-Kartosuro. Dari sana sang ayah mulai melihat bakat Yuni remaja dengan karir cerah. Hal itu dibuktikan satu tahun setelahnya, tepatnya tahun 1982, ia menjadi Juara I Bulutangkis Tunggal Taruna Puteri se-Jawa Tengah.
Bak gayung tersambut, prestasi bulutangkis yang melejit di Jawa Tengah mendapat respon baik dari pemerintah . Hingga membawa Yuni remaja memperoleh beasiswa di SMA Negeri Ragunan khusus olahragawan. “Kebetulan juga, pada saat itu ayah pindah tugas di Jakarta. Jadi, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Susi Susanti itu adik kelas saya, kami dulu satu kamar,” kenang perempuan berbadan ringkih itu. Ia dan Susi masuk di klub yang sama, yaitu Klub Jaya Raya.
Ibarat membuka air keran di sumur yang meluap. SMA Ragunan membawa segala karier yang memuncakkan namanya di dunia bulutangkis. Berbagai macam turnamen yang diadakan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DKI Jakarta berhasil menjadikannya bintang lapangan. Seperti tahun 1982, Yuni menjadi Juara III Bulutangkis Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jaya. Setahun setelahnya (1983), ia menjadi juara III tunggal, juara III ganda dan juara III ganda campuran Taruna PBSI DKI Jaya. Setelah itu (1984), sosok Yuni semakin melejit pada juara I ganda, juara II ganda dan juara III ganda campuran Taruna PBSI DKI Jakarta. Hingga akhirnya pada PON XI di DKI Jakarta (1985), Yuni semakin memantapkan diri setelah memperoleh medali perak cabang bulutangkis mewakili DKI Jakarta.
Setelah tamat dari SMA Ragunan, Yuni sempat bekerja di Bank Central Asia (BCA). Di tempat kerjanya, Yuni mendapat penghargaan dari BCA karena prestasinya di olahraga bulutangkis. Selain itu, ia juga sempat menjadi pelatih di Club Aqua Lawang. Mengingat prestasi yang demikian gemilang, memasuki tahun 90-an, Presiden Soeharto sempat menawarkan beasiswa polwan kepada Yuni. Mengikuti jejak saudara-saudaranya yang lebih dulu menjadi polisi.
“Manusia hanya mampu berencana saja. Tetap Tuhan yang menentukan. Ketika di puncak karir saya mengalami kecelakaan permanen. Akibatnya kaki kanan lumpuh,” kata Yuni. Ketika ditanya apakah tidak mencoba berobat atau meminta bantuan kepada pemerintah, Yuni mengaku pasrah. “Saya buang semua obat-obatan. Saya tidak percaya dokter dan obat. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan jika semua mimpi itu hilang dalam sekejab,” katanya dengan nada bicara yang agak meninggi.
Pengamen Jalanan
Layaknya terbangun dari mimpi di tengah malam. Yuni menyadari kehidupan ini bak putaran roda, ada kalanya berada di poros atas dan harus siap jika sewaktu-waktu berada di bawah tumpuan. Begitu semua karir yang dibangun ketika muda lenyap, Yuni berusaha untuk tetap menjalani hidup sesuai dengan garis Tuhan.
Namun, Yuni masih melihat peluang pada bakatnya yang lain: menyanyi. Usia 22 ia pindah ke Surabaya mengikuti orangtua yang pensiun militer. Mulailah ia menerima tawaran menyanyi di café, restoran, panggung hiburan dan club malam. Kemudian pada tahun 2010 ia mendapat izin resmi di Pagngung Gembira Peron Stasiun Surabaya Kota.
Tempat yang disediakan oleh UPTD Stasiun Semut gratis, namun mereka membayar Rp 500 ribu setiap bulan untuk biaya listrik. Sebenarnya, jika disebut panggung pun tidak memadahi. Tidak ada tatanan kayu yang tersusun tinggi, yang membedakannya dengan penonton. Alat-alat musik seperti gitar, bass, drum dan sound system di letakkan begitu saja di lantai peron. Tanpa alas kayu tinggi yang membedakannya dengan penonton.
Hasil dari menyanyi setiap hari mulai pukul 08.00-16.00, Yuni mendapat uang antara Rp 30 ribu -Rp 50 ribu. Uang itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan tiga putranya masing-masing Vemby Saputra (18), Elang Manda (16) dan Aldi Renata (12) serta membayar uang sewa rumah kos-kosan di Jl Sulung Utara. Suaminya, Choirul Anwar, juga seniman panggung gembira di Kapal Pelni.
Apakah dengan hasil itu cukup untuk segala kebutuhan keluarga, Yuni tidak langsung menjawab. Ia mengangguk pelan sambil terlontar komentar, “Alhamdulliah cukup. Nggak bisa lebih, tapi cukup,” ucapnya.
Di Panggung Gembira Stasiun Surabaya Kota, Yuni bergabung dengan ‘Semut Indah Band’. “Awal bergabung dengan band ini ketika pulang dari Pasuruan. Lantas ditawari oleh temen-temen bergabung. Ya sudah, aji mumpung aja,” ungkap Yuni. Pada group band itu, Yuni ‘menjabat’ sebagai vokalis.
Rutinitas menyanyi Yuni dimulai pukul 08.00-16.00 setiap hari Senin-Sabtu di Stasiun Surabaya Kota. Tambahan hari Minggu di Pasar Turi mulai pukul 16.30-20.00. “Masih ada tambahan lagi, setiap hari jumat pukul 16.00 main di Bungurasih. Nih, sebentar lagi kita berangkat. Nebeng KA Penataran,” ucapnya seraya tersenyum.*
Biodata
Nama : Yuni Astuti
Tempat, tgl lahir : Jakarta, 2 Juni 1966
Usia : 45 tahun
Pekerjaan : Seniman Panggung Gembira Stasiun Kota Surabaya
Suami : Choirul Anwar
Pekerjaan : Seniman Panggung Gembira Pelni
Anak:
- Vemby Saputra SMKN 2 Surabaya
- Elang Manda SMKN 4 Surabaya
- Aldi Renata SMPN 47 Surabaya
Riwayat Pendidikan:
SDN Kartosuro
SMPN Sawit Solo
SMAN Ragunan (Khusus Olahraga)
Prestasi:
- 1980-Juara II Bulutangkis Tunggal Putri Kartosuro
- 1981- Juara I Bulu Tangkis Tunggal Putri Kartosuro
- 1982- Juara I Atltelik Pelajar SMTA 1500 meter Puteri Kabupaten Sukoharjo
- 1982- Juara I Tunggal Taruna Puteri se-Jawa Tengah
- 1982-Juara III Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jaya
- 1983-Juara III Tunggal Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta
- 1983-Juara III Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta
- 1983-Juara II Ganda Campuran Taruna PBSI DKI Jakarta
- 1983-Juara I Ganda Campuran Putra/Puteri PBSI DKI Jakarta
- 1984-Juara II Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta
- 1984-Juara III Ganda Campuran Taruna PBSI DKI Jakarta
- 1984- Juara I Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jakarta
- 1986- Juara I Bulutangkis Ganda PON Jakarta
sumber informasi:http://www.surabayapost.co.id/?mnu=b...800998ecf8427e
nasib olahragan yang berpreatasi kok selalu begini akhirnya tragis makanya sekarang banyak orang indonesia tdk mau jadi olahragawan