Rabu, 19 Oktober 2011

Menhut ajak Blogger hijaukan hutan



Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan selama rentang waktu 60 tahun terkahir ini sebanyak 30 persen lebih hutan Indonesia menyusut dan rusak.

Hutan kita ini dalam 60 tahun ini telah berkurang 30 persen lebih," ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu.
Menhut mengajak seluruh Blogger (pemilik blog/media sosial di internet) untuk ikut menghijaukan kembali hutan Indonesia yang telah mengalami kerusakan.

Perlu peran serta semua pihak untuk memulihkannya termasuk komunitas media sosial. Para Blogger ini kan sangat berpengaruh dalam media sosial. Oleh karena itu, mereka bisa ikutserta mengajak masyarakat melalui kampanye penghijauan kembali hutan kita," harap Menhut.

Untuk mengembalikan keteduhan hutan Indonesia, lebih lanjut dia mengatakan dapat dilakukan dengan menanam pohon 10 bibit per orang. "Dengan cara itu, Indonesia akan kembali berjaya dalam urusan hutan dalam tempo 30 tahun ke depan," ujarnya.

"Jika seluruh rakyat dapat menanam 10 pohon dan merawatnya maka hutan Indonesia dapat di pulihkan kembali dalam waktu 30 tahun. Untuk mendukung upaya ini Saya tidak mengeluarkan izin baru sejak tahun 2009," kata Zulkifli dalam diskusi dengan para blogger di kawasan jalan Aditiawarman, Jakarta Selatan, kemarin.

Berdasarkan Data Kementerian Kehutanan tingkat kerusakan telah mencapai lebih dari 1,08 juta hektar (ha) setiap tahunnya. Dengan itu, menurutnya luas hutan yang rusak di Indonesia telah mencapai 65 juta hektar atau sekitar 30 persen dari total luas hutan Indonesia.

Menurut dia, penyebab kerusakan hutan, adalah ekspolitasi, perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan dan areal pertambangan yang mengesampingkan ketahanan lingkungan. Selain itu, otonomi daerah juga ditengarai menyumbang kerusakaan hutan di Indonesia, karena disinyalir dengan gampangnya, pemerintah daerah memberikan izin kepada investor asing.

Apalagi, lanjutnya, terjadi gerakan eksploitasi, konversi, dan alih fungsi terutama pada tahun 1998-2002. Perlu adanya perubahan kebijakan yang mendasar dari pemerintah pusat hingga ke daerah guna mewujudkan kembali hutan Indonesia yang pernah menjadi pusat paru-paru dunia.

Lebih lanjut dia mengatakan Kementeriannya sendiri tahun ini menyediakan bibit sebanyak 500 juta batang bibit untuk menghijaukan kembali hutan Indonesia. Bibit ini dapat diambil di Kementerian Kehutanan dan dinas kehutanan di seluruh Indonesia dan tidak dikenakan biaya sedikit pun guna kembali mentata hutan Indonesia.

sumber:antaranews.com

Pengaruh dari Perubahan Iklim Susutkan Ukuran Tanaman




Dari sebuah studi, beberapa peneliti melaporkan bahwa salah satu efek dari pemanasan global adalah Namun perubahan iklim tak hanya mempengaruhi hewan. Selain hewan, sejumlah spesies tanaman juga mengalami penyusutan ukuran. Ironisnya, tumbuhan yang terkena dampak adalah tumbuhan yang biasa memasok nutrisi penting bagi miliaran manusia.

Jennifer Sheridan dan David Bickford, peneliti dari National University of Singapore (NUS) mengamati literatur ilmiah seputar tahapan perubahan iklim yang terjadi jauh di masa lalu dan membandingkannya dengan situasi yang terjadi di beberapa beberapa waktu setelahnya.

Dari catatan fosil yang ditemukan, ternyata kenaikan temperatur di masa lalu telah membuat organisme air dan darat menjadi semakin kecil. Saat Bumi menghangat pada 55 juta tahun lalu, kumbang, lebah, laba-laba, tawon dan semut menyusut ukurannya antara 50 sampai 75 persen dalam kurun waktu beberapa ribu tahun. Mamalia seperti tupai dan tikus juga menyusut sekitar 40 persen.

Sejumlah penyusutan tersebut ternyata mengejutkan. "Tumbuhan diperkirakan malah bertambah besar dengan meningkatnya karbon dioksida di atmosfer," sebut kedua peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Climat Change. "Tetapi ternyata banyak yang pertumbuhannya malah terhambat karena perubahan temperatur, kelembaban dan ketersediaan nutrisi," katanya.

Berhubung pemanasan global bergerak pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, peneliti menyebutkan, banyak organisme yang mungkin tidak mampu merespons ataupun beradaptasi dengan cepat.

"Kami belum mengetahui secara pasti mekanisme apa saja yang terlibat atau mengapa sebagian organisme menciut dan yang lain tidak terpengaruh," sebut peneliti. "Sampai kita memahami lebih lanjut, kita berpotensi memperparah kondisi yang belum dapat kita perkirakan ini."

sumber:nationalgeographic

Berkat Enzim, Panda Raksasa Tinggalkan Daging dan Makan Bambu





Panda raksasa, hewan yang menjadi ciri khas negeri China ternyata tidak begitu saja mengonsumsi bambu. Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, ada mikroorganisme di usus mereka yang membantu mencerna tumbuhan itu meski usus mereka sebenarnya lebih cocok untuk makan daging.

Di dunia satwa, panda (Ailuropoda melanoleuca) merupakan hewan yang paling pilih-pilih dalam urusan makanan. Di alam bebas, mereka makan lebih dari 12 kilogram bambu setiap hari dan hanya sedikit mengonsumsi makanan lain. Mereka perlu makan sebanyak itu karena meski bambu mengandung protein, gula, lemak, dan nutrisi lain, sebagian besar kalorinya terkunci di serat selulosa yang sulit dicerna.

Dari sebuah penelitian terhadap dua ekor panda, diketahui bahwa 92 persen selulosa dan 73 persen hemiselulosa pada bambu yang dimakan panda hanya ‘numpang lewat’ dan berakhir di feses.

Sebagian besar herbivora mengembangkan cara untuk memecah selulosa menjadi gula. Sebagai contoh, sapi dan hewan lain memiliki sistem pencernaan rumit yang memiliki beberapa perut yang penuh dengan mikroba. Mereka mencerna berkali-kali untuk mengekstrak nutrisi dalam jumlah maksimal.

Namun panda merupakan beruang, hewan yang umumnya mengonsumsi daging dan tidak memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna selulosa atau memiliki mikroba seperti hewan herbivora. Dari survey terhadap usus panda, ternyata hewan itu punya mikroorganisme yang sama seperti beruang hitam, beruang kutub, dan pemakan daging lainnya.

Fuwen Wei, ekolog dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences di Beijing kemudian memperhatikan lebih lanjut mikroba yang hidup di dalam usus panda. Mereka mengumpulkan sampel dari 7 ekor panda liar di pegunungan Qinling dan Xiangling di China tengah dan barat, serta 8 ekor panda yang ada di penangkaran untuk diteliti DNA, bakteria dan juga gen mikrobial yang ada di usus mereka.

Meski panda liar dan panda yang ada di penangkaran mengonsumsi makanan serta punya gaya hidup yang berbeda (panda di penangkaran memakan lebih beragam makanan termasuk buah dan susu), mereka cenderung memiliki spesies mikroba yang sama di ususnya. Kedua kelompok beruang itu punya enzim yang memecah selulosa menjadi gula yang lebih sederhana.

Enzim mikrobial itu membantu panda mengekstrak energi lebih banyak dari sedikitnya jumlah bambu yang berhasil mereka proses. Mikroba ini merupakan bagian dari adaptasi evolusioner, selain rahang dan gigi yang kuat, jari dan tulang yang memungkinkan mereka mencengkram tangkai, yang membantu panda hidup hanya dari bambu meski mereka punya sistem pencernaan hewan karnivora.

Meski demikian, Ruth Ley, mikrobiolog dari Cornell University, New York menyebutkan, panda juga punya enzim pencerna selulosa yang lebih sedikit dibandingkan spesies herbivora non eksklusif seperti manusia.

“Kami melihat panda sebagai hewan yang beradaptasi dengan buruk. Cara utama bagaimana panda beradaptasi terhadap makanan berkualitas rendah bukanlah lewat mikrobiota seperti sebagian besar hewan lain, tetapi dengan cara makan terus menerus selama 15 jam per hari,” ucapnya.

Sumber: Scientific American, Nature,http://nationalgeographic.co.id

Selasa, 18 Oktober 2011

Manfaat dau sirsak untuk penyakit kanker




Selama ini tanaman sirsak dimanfaatkan masyarakat hanya dari buahnya saja. Rasanya yang manis agak keasam-asaman memberikan sesasi rasa yang segar. Oleh masyarakat buah sirsak sering dibuat makanan seperti selai sirsak ataupun jus sirsak dengan rasa yang khas. Namun ternyata bukan hanya sensasi rasanya saja yang membuat sirsak banyak diburu. Kandungan buah sirsak yang baik untuk kesahatan, membuat banyak orang yang ingin mengonsumsinya. Seperti apa manfaat sirsak untuk kesehatan tubuh?

Dalam bahasa latin tanaman sirsak disebut dengan Anona Muricata Linn yang merupakan kerabat dari tanaman srikaya (Anona Squamosa Linn). Tanaman ini berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis. Seperti peru, meksiko dan Argentina. Sirsak sampai ke Indonesia di bawa oleh pedagang spanyol, tetapi kata sirsak sendiri berasal dari bahasa Belanda. Dari kata Zuurzak dimana Zuur berarti asam, sedangkan Zak berarti kantong, atau dalam arti harfiah dinyatakan sebagai kantong yang rasanya asam.

Rasa asam pada buah sirsak berasal dari asam organik nonvolatile, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat. Di dalam buah sirsak terdapat kandungan vitamin C, yang merupakan kandungan vitamin yang paling besar dari pada vitamin lainnya. Kandungannya sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Sebaliknya, kandungan lemak pada buah sirsak merupakan bagian terkecil dari semua kandungan yang dapat dimanfaatkan, yakni hanya sebesar 0,3 g per 100 gram sirsak.

Kebutuhan vitamin C rata-rata orang Indonesia adalah sebesar 60 mg per hari, sehingga hanya membutuhkan 300 gram saja untuk memenuhi semua kebutuhan vitamin C tubuh.

Kandungan vitamin C yang tinggi ini membuat buah sirsak sangat baik dimanfaatkan sebagai obat awet muda dan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Karena vitamin C merupakan antioksidan yang baik bagi tubuh manusia. Disamping itu, sirsak juga mengandung kadar sodium (natrium) yang rendah tetapi mengandung potasium (kalium) yang tinggi, sehingga sirsak dapat sebagai penawar penyakit hipertensi.

Yang tidak perlu diabaikan pula adalah tingginya kandungan serat pada buah sirsak. Sirsak mempunyai kandungan serat yang notabene berfungsi untuk menjaga kelancaran kerja saluran cerna sehingga bermanfaat untuk menjamin kelancaran proses buang air besar.

Manfaat Sirsak

Tanaman sirsak memiliki banyak khasiat, baik yang melalui pengolahan terlebih dahulu maupun yang tidak. Bagian tanaman mulai dari daun sirsak sampai akar sirsak mempunyai manfaat yang banyak dan berbeda-beda.

Biji dan daun sirsak bisa dipakai sebagai umpan untuk membunuh ikan. Serbuk daunnya efektif untuk membasmi cacing. Sementara itu, serbuk itu pula dan minyak yang terkandung dalam biji sirsak juga ampuh untuk membasmi kutu dan serangga kecil lainnya.

Ketika terjadi bisulan, ambillah daun sirsak secukupnya, diremas-remas untuk kemudian ditempelkan di area bisul. Remasan dun ini membuat bisul menjadi cepat matang. Remasan daun juga bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit rematik dan bebagai macam penyakit kulit. Namun pada luka yang sudah terlalu dalam dan berpeluang terjadi infeksi, sebaiknya tidak mengandalkan pengobatan dengan daun sirsak saja.

Rebusan daun. Rebusan daun sirsak dapat dipakai untuk mengatasi gangguan saluran pencernaan dan mampu mengatasi kelelahan. Yang cukup heran adalah manfaat daun sirsak sebagai obat penenang dan penimbul rasa kantuk dengan hanya meletakkan daunnya di tepi bantal sesaat sebelum tidur.

Anti Kanker

Penelitian di Laboratorium Healt Sciences Institute, Amerika Serikat di bawah pengawasan The National Cancer Institute mendapati bahwa di dalam daun sirsat terdapat kandungan Zat Annonaceous Acetoganins yang mampu membunuh sel-sel kanker 10.000 kali lebih kuat daripada Zat Adriamycin yang biasa digunakan dalam pengobatan kemoterapi. Zat Acetogenins dapat membunuh berbagai macam kanker, antara lain kanker usus, tiroid, prostat, paru-paru, payudara, pankreas hingga penyakit ambeien.

Terapi kanker dengan daun sirsak tidak menimbulkan efek samping seperti kerontokan rambut, penurunan berat badan, rasa mual dan muntah seperti pengobatan kanker yang selama ini dilakukan. Pengobatan ini tergolong sangat aman pula karena tidak mengganggu kehidupan sel-sel sehat disekitar sel-sel kanker tersebut.

Cara Pengolahan

Cara pengolahan daun sirsak sebagai obat herbal atasi kanker yang dijelaskan oleh Darmawan Tri Wibowo, ahli budidaya tanaman sirsak dari Taman Wisata Mekarsari adalah sebagai berikut :

Untuk pengobatan kanker. 5 sampai 10 lembar daun sirsak direbus dengan 3 gelas air atau 600 ml hingga sisakan 1 gelas air rebusan saja. Kemudian diminum selagi hangat setiap hari dua kali, siang dan sore selama 3 sampai 4 bulan. Dalam perebusan sebaiknya tidak menggunakan kuali atau panci yang terbuat dari tanah liat, sebab tanah liat mampu menyerap zat-zat yang terkandung dalam daun rebusan. Ketika memilig daun untuk rebusan, sebaiknya dipilih yang tidak terlalu muda ataupun terlalu tua.

Pembuatan obat herbal ini juga dapat menggunakan daun sirsat kering. 10 sampai 15 daun sirsat kering direbus hingga tersisa 1 gelas saja. Kemudian diminum. Daun sirsat kering dan basah mempunyai kandungan manfaat yang sama selama proses pengeringannya tidak dilakukan dibawah sinar matahari. Cukup diangin-anginkan saja.

Daun sirsat basah juga bisa diolah menjadi ekstrak daun, caranya? Pilih 3 sampai 5 daun, kemudian di blender dengan ¼ air hangat. Hal ini dilakukan agar daun sirsat berubah menjadi partikel-partikel kecil sehingga lebih mudah diekstrak. Caranya? Tuang air panas ke dalam hasil blender, tutup rapat dan diamkan 15 sampai 20 menit agar proses ekstraksi sempurna. Lalu saring dan diminum.

Konsumsi daging buah sirsat segar 150 sampai 250 g per hari untuk menambah daya tahan tubuh, penambah energi dan memperlancar pembuangan sel-sel kanker yang telah mati.

Efek Samping

Sebenarnya efek samping yang disebabkan obat herbal daun sirsat tidaklah banyak dan mengganggu kesehatan. Biasanya hanya agak berkeringat, sering buang air kecil dan hangat pada bagian tubuh yang sakit. Untuk penderita maag, diharapkan lebih berhati-hati, karena buah sirsat dapat meningkatkan asam lambung. Jika Anda ingin mengonsusinya, kukus daging sirsat agar kandungan asamnya berkurang. Namun tidak untuk daun sirsat.

Demikian manfaat sirsak untuk kesehatan tubuh, apabila tidak ada kemajuan setelah 2 minngu terapi dengan menggunakan daun sirsak, ada baiknya selalu konsultasi dengan dokter untuk mendapat informasi yang lebih tepat untuk kesehatan Anda.

sumber informasi:http://infowanitakarirt.com

Senin, 17 Oktober 2011

Lutung Jawa atau "trachypithecus auratus" Di Gunung Panderman terancam punah




Lutung Jawa atau "trachypithecus auratus" yang hidup di hutan lindung Gunung Panderman di Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur, terancam punah karena hutan tempat mereka berlindung terbakar sejak Kamis (13/10) sore.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid pada Sabtu menjelaskan, berdasarkan data ProFauna populasi luntung jawa di wilayah itu sekarang tinggal 20 ekor, dari 50 ekor pada tahun 1990.

Dengan adanya kebakaran hutan, populasi lutung jawa akan semakin terancam punah, akibat populasinya semakin terdesak dengan pemukiman penduduk ditambah musibah kebakaran hutan.

"Sebagian besar binatang yang hidup di kawasan hutan lindung Gunung Panderman akan lari ke pemukiman penduduk akibat kebakaran ini, dan mereka kebanyakan tidak bisa selamat apabila lari ke pemukiman, sehingga terdesak," katanya.

Selain lutung jawa, Rosek mengaku, juga ada sejumlah binatang langka lainnya yang populasinya juga terancam punah akibat kebakaran hutan yang melanda kawasan hutan lindung Gunung Pandeman.

Seperti, Kucing Hitam (Black Cat), Elang Pitu, Jelarang (tupai), Landak serta Macan Loreng. "Semua binatang itu akan lari ke pemukiman akibat kebakaran hutan, dan di wilayah pemukiman bisa terjadi konflik antara manusia dengan binatang itu," katanya.

Sementara, asap yang timbul akibat kebakaran hutan juga bisa menyebabkan sejumlah binatang langka itu mempunyai kelainan sikap, sehingga diperlukan upaya konservasi dari pemerintah.

Oleh karena itu, Rosek berharap, aparat terkait bisa segera melakukan pemadaman kebakaran hutan secepatnya, sehingga tidak mengganggu bintang langka yang hidup di kawasan hutan lindung Gunung Panderman.

"Hingga kini, memang belum ada laporan masuk dari penduduk mengenai satwa-satwa itu yang muncul akibat kebakaran, namun kita harapkan petugas bisa secepatnya memadamkan kobaran api yang masih tersisa," katanya.

Sebelumnya, kebakaran yang terjadi sejak Kamis (13/10) sore di kawasan hutan lindung, Gunung Panderman, Dusun Srebet, Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu, hingga hari ini mencapai 100 hektare.

Ketua Tim Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Batu, Simon Purwo Ali mengatakan, kondisi kebakaran yang terjadi kini semakin meluas, dari awalnya 70 hektare pada Jumat (14/10), dan kini menjadi 100 hektare.

Namun, sedikitnya 90 persen api yang membakar hutan lindung itu telah berhasil dipadamkan, dan hanya tersisa 10 persen dari total 100 hektare hutan yang terbakar di kawasan Dusun Srebet.

sumber;Antara news.com

Penyelundupan trenggiling rugikan negara Rp38,45 miliar





Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat negara setidaknya dirugikan sekitar Rp38,45 miliar karena penyelundupan trenggiling.

Menurut Direktur Penyidikan dan Pengamatan Hutan Kemenhut, Raffles Panjaitan selama 2006-2011 telah terjadi peredaran illegal trenggiling di beberapa propinsi.

"Trenggiling itu binatang langka, sehingga tidak ada permitnya. Semua bentuk perdagangan trenggiling itu illegal," katanya.

Menurut data Kemenhut, selama lima tahun terakhir terjadi sebanyak 587 kasus, 35 di antaranya kasus penyelundupan trenggiling di beberapa propinsi seperti Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Lampung dan Jakarta.

Untuk tahun 2011 sendiri, per Oktober sudah ada 5 kasus penyelundupan di Cengkareng, Tanjung Priuk, dan Belawan. Negara diperkirakan rugi sampai Rp15,3 miliar. Tiga kasus itu sedang disidik dan dua di antaranya sudah masuk proses hukum.

Dikatakan, trenggiling diburu untuk dimanfaatkan daging, sisik, empedu dan hatinya. Menurut kepercayaan masyarakat China, daging dan bagian tubuh tersebut dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional. Sementara itu, sisik trenggiling bisa dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, sapu ijuk dan narkotika.

Sementara di pasar lokal, harga trenggiling berkisar Rp300-Rp400 ribu untuk berat 5-7 kg per ekor. Kemudian untuk sisik trenggiling bisa mencapai Rp 400 ribu per kg.

"Sedangkan di pasaran internasional, harga daging trenggiling mencapai 112 dolar AS per kg dan sisik trenggiling mencapai 400 dolar per kg," katanya.

Menurut Raffles, pelaku penyelundupan hewan diancam dengan pasal 21 ayat 2 UU No.5 tahun 1990 yang menyebutkan tiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, dan memperdagangkan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati dengan ancaman pidana kurungan 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Trenggiling merupakan jenis mamalia yang masuk dalam jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Binatang ini hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Makanannya adalah serangga seperti rayap dan semut. Daerah habitat penyebaran trenggiling, antara lain di Riau, Kalimantan dan Jawa.

sumber;http://www.antaranews.com

Elang Filipina (Pithecophaga jefferyi) Terancam Punah






Seekor elang Filipina (Pithecophaga jefferyi) yang jumlahnya hanya tersisa beberapa ratus ekor saja di seluruh dunia, ditemukan tewas. Elang betina berusia 2 tahun itu ditemukan warga setempat dengan peluru di dalam tubuhnya, di sebuah hutan kawasan selatan pulau Mindanao, Filipina.

Burung pemangsa yang sering disebut dengan "elang pemakan monyet" tersebut merupakan elang raptor berukuran 1 meter dan hanya bisa dijumpai di Filipina. Jumlahnya terus menyusut akibat pemburuan liar dan penebangan hutan yang menjadi tempat tinggalnya.

Warga yang menemukan hewan sang elang segera mengembalikannya ke Dennis Salvador, ketua Philippine Eagle Foundation karena mendapati adanya radio transmitter yang dipasang di tubuh elang itu. “Meski kami sudah berupaya keras, jika ada seseorang yang memegang senjata memutuskan untuk menembaknya, ia dengan mudah memusnahkan segala yang pernah kami kerjakan,” ucap Salvador.

Salvador menyebutkan, elang dari spesies tersebut, yang merupakan elang paling besar dan paling kuat di seluruh dunia, bisa punah dalam 20 tahun ke depan jika tidak ada upaya yang lebih keras untuk melindungi elang dan habitatnya. Elang yang tewas ini sebelumnya pernah ditangkap oleh seorang petani saat sedang berupaya untuk memangsa anjing peliharaannya pada Mei 2010 lalu. Ketika itu, oleh sang petani, elang yang terluka ini kemudian diserahkan ke Eagle Foundation untuk diobati dan kemudian dilepaskan kembali ke alam bebas setelah sehat dan dipasangi pemancar radio untuk dipantau.

Menurut data International Union for the Conservation of Nature, elang ini masuk ke kategori ‘sangat terancam’ dan diperkirakan hanya tersisa 670 ekor saja yang masih hidup, sementara The Philippine Eagle Foundation baru-baru ini melepaskan enam ekor elang, baik yang lahir di penangkaran ataupun mendapatkan pengobatan setelah terluka. Sayang, empat di antaranya kemudian tewas dengan tiga ekor terkena luka tembak.

Pithecophaga jefferyi sendiri merupakan burung lambang negara Filipina. Pemburuan dan penangkapan hewan ini merupakan pelanggaran hukum, namun menurut Salvador, orang-orang masih tetap melakukan penembakan terhadap elang tersebut untuk dimakan ataupun sekadar untuk sport.
Sumber:http://nationalgeographic.co.id

Kementerian PU Gandeng Pemda Dalam Menciptakan Kota Hijau



Kementerian Pekerjaan Umum akan memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan rencana aksi mewujudkan kota hijau. Program Pengembangan Kota Hijau untuk mendorong kualitas tata ruang kota agar responsif terhadap perubahan iklim tersebut akan dimulai tahun depan.

Sebanyak 60 pemda dari sekitar 150 kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah (perda) tentang rencana tata ruang wilayah sudah menyampaikan komitmen ikut program kota hijau.

Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU Imam Santoso Ernawi menerangkan, pihaknya meminta keenam puluh pemda ini membuat Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) yang memuat prakarsa dan program daerah sebagai langkah awal mewujudkan kota hijau. Inisiatif ini juga dapat diposisikan dalam konteks implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

"Pertumbuhan kota pesat secara langsung berimplikasi terhadap timbulnya berbagai permasalahan seperti kemacetan, banjir, permukiman kumuh, kemiskinan, serta menurunnya luasan ruang terbuka hijau. Kebutuhan atas ruang terbuka hijau dalam porsi yang memadai di perkotaan menjadi sangat penting. Ditambah lagi masalah perubahan iklim, yang menuntut kita semua untuk memikirkan secara lebih saksama sebuah gagasan yang dituangkan ke dalam kebijakan dan program yang lebih komprehensif sekaligus realistis sebagai solusi," katanya.

Saat ini penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan sudah mencapai 52 persen. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat hingga 68 persen pada 2025.

Menurut Imam, pada tahap awal ada tiga atribut yang wajib dipenuhi dalam pengembangan kota hijau. Pertama menyiapkan rencana dan desain yang sensitif terhadap agenda hijau, kedua peran serta masyarakat dalam pengembangan kota (green community), dan ketiga perwujudan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30 persen dari luas wilayah kabupaten/kota.

RTH 30 persen itu sebenarnya sudah diamanatkan di dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 30 persen area itu terdiri atas 20 persen ruang terbuka hijau publik dan 10 persen ruang terbuka hijau privat.

Sementara Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, Budi Yowono, mengutarakan hingga sekarang belum ada kota di Indonesia yang berpredikat kota hijau. Padahal penciptaan kota hijau diharapkan dapat menjadi salah satu jalan keluar bagi pengurangan emisi gas rumah kaca

sumber;http://nationalgeographic.co.id

Minggu, 16 Oktober 2011

Kuda Laut Mulai Masuk ke Sungai


Pengamat kehidupan satwa liar asal Inggris menyatakan bahwa mereka mendapati sebuah koloni kuda laut langka yang biasanya hidup di kawasan Mediterranean atau Laut Tengah di Sungai Thames.

Penampakan kuda laut itu terjadi saat peneliti melakukan survei rutin di kawasan Greenwich. Dari pemantauan, diperkirakan ada populasi permanen dari spesies tersebut di Inggris. Petugas badan lingkungan hidup menyebutkan, kuda laut itu kemungkinan juga beranak pinak di sungai tersebut.

Kuda laut bermoncong pendek yang bisa tumbuh hingga sepanjang 15 sentimeter ini memang kadang dijumpai di perairan lepas pantai Inggris. Namun belum pernah didapati bahwa mereka masuk sampai jauh ke dalam lewat sungai.


“Kuda laut yang kami temukan masih kecil. Ini mengindikasikan bahwa mereka dilahirkan di sekitar kawasan tersebut,” kata Emma Barton, seorang petugas dari Environment Agency. “Ini merupakan pertanda yang bagus bahwa populasi kuda laut, tidak hanya meningkat, tetapi juga menyebar ke lokasi-lokasi di mana mereka tidak pernah ditemukan sebelumnya,” ucapnya.

Emma menyebutkan, pihaknya berharap bahwa perbaikan terhadap kualitas air dan habitat di Sungai Thames akan menarik lebih banyak spesies langka seperti ini untuk menjadi penghuni tetap sungai tersebut.

Sumber:http://nationalgeographic.co.id

ASEAN Rickshaw Run Akan Dibuka




D
ua puluh delapan tim dari 12 negara akan mengikuti ASEAN Rickshaw Run, mengemudikan rickshaw atau becak motor dari Jakarta sampai Bangkok, Thailand yang dibuka hari Minggu (16/10).

ASEAN Rickshaw Run merupakan acara yang bertujuan menggalang dana bagi konservasi hutan di Sumatea yang menjadi wilayah kerja Birdlife International, sebuah organisasi konservasi independen berbasis keanggotaan dan jaringan.
Peserta secara total terdiri atas 66 orang, dan akan menempuh jarak kurang lebih 3.000 kilometer.

Titik mula ASEAN Rickshaw Run ini dimulai di Sekretariat ASEAN Jakarta, kemudian bakal bergerak ke arah barat dan Sumatra menuju Belawan (Sumatra Utara), menyeberangi Selat Malaka ke Penang (Malaysia), dan dari Penang akan melewati utara daratan melalui Satun (Thailand) dan finish di Bangkok (Thailand) diperkirakan pada tanggal 30 Oktober 2011 mendatang.
sumber berita:http://nationalgeographic.co.id

Pages