Kamis, 15 Desember 2011

Satwa Langka Marak Diperjualbelikan di Perbatasan


Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, mengatakan bahwa penjualan satwa liar yang dilindungi marak dilakukan di kawasan perbatasan, seperti di Pontianak, Kalimantan Timur dan Barat, dan sejumlah titik di wilayah Sumatra. "Kita sudah menandai beberapa lokasi yang marak terjadi penyelundupan satwa dilindungi, dan merekomendasikan agar pengawasan di titik-titik tersebut ditingkatkan," ujar Darori. Beberapa lokasi di Sumatra yang kerap menjadi jalur penyelundupan ke Malaysia adalah jalur laut melalui Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Sedangkan, untuk ke Filipina, para penyelundup biasanya menggunakan jalur laut Maluku.
Satwa langka dan dilindungi favorit yang diselundupkan di antaranya adalah burung cenderawasih, dengan modus yang semakin canggih. "Modusnya bukan lagi dibawa dengan sarang, tapi diberi obat tidur, dan burung yang tertidur diselipkan di balik jaket," ungkapnya. Menurut Darori, ketatnya pengawasan melalui kerja sama pihak kepolisian setempat bekerja sama dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) diharapkan mengatasi hal tersebut. Perdagangan satwa dilindungi dapat dijerat pasal 21 ayat 2a juncto pasal 40 ayat 2 Undang-undang No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman pidana penjara selama lima tahun.
Sumber: national gegrapich.co.id

Pola Makan Orangutan Bisa Jadi contoh Manusia




Pola makan orangutan yang kuat bersantai seharian hanya untuk makan daun dan buah dianggap sebagai sesuatu wajar. Pasalnya, mereka harus menimbun lemak untuk menghadapi masa-masa sulit ketika makanan susah didapat. Pola makan seperti ini juga ditemukan di manusia. Bedanya, manusia bukan menimbun lemak karena bersiap dengan musim paceklik. Melainkan karena pola hidup yang kadang secara tidak sadar menimbulkan masalah kesehatan seperti kegemukan. Atas hubungan ini, seorang peneliti dari Amerika Serikat, Erin Vogel, mencoba menjadikan orangutan sebagai model untuk mempelajarai kegemukan pada manusia. "Orangutan menjadi model menarik untuk mempelajari kegemukan pada manusia karena mereka satu-satunya kera dan kemungkinan satu-satunya primata non-manusia yang menyimpan cadangan lemak di alam liar," kata Vogel yang juga anthropologis dari Rutgers University di New Jersey, Amerika Serikat. "(Pola makan) ini belum pernah didokumentasikan di spesies lain," tambahnya. Vogel dan beberapa koleganya sudah mempelajari sampel urin dari orangutan yang ada di Kalimantan selama lima tahun. Penelitian ini dipimpin oleh seorang ahli anthropologis-biologis, Dr Cheryl Knott. "Orangutan hidup di habitat yang benar-benar menantang dan dapat mengambil keuntungan dari periode ketika buah berlimpah luar biasa, di mana 80 persen pohon mulai berbuah. Mereka makan dan makan hingga akhirnya gemuk," ujar Vogel lagi. Tapi ketika akhirnya masuk masa paceklik, yang kadang bertahan hingga delapan tahun, orangutan mulai beradaptasi dengan beralih memakan kulit tumbuhan. Dari hasil penelitian, perubahan makanan ini mempengaruhi urin orangutan. Awalnya, para peneliti menemukan zat organik yang disebut ketones sebagai penanda jika orangutan membakar lemak menjadi energi. Kemudian ditemukan lagi isotop nitrogen yang tinggi yang artinya orangutan memecah sel otot agar bisa menjadi protein dan energi. "Mereka harus mendapat energi dari suatu sumber, jadi mereka mulai memakan jaringan tubuh sendiri. Situasi ini sama seperti yang kita temukan dalam tubuh manusia yang kekurangan makan atau pun penderita anoreksia," papar Vogel. Studi ini menunjukkan jika orangutan bisa mengambil keuntungan dari kemampuan menyimpan lemak demi bertahan hidup. Sayangnya kemampuan ini belum bisa dimaksimalkan pada manusia. "Manusia punya kemampuan untuk menyimpan lemak, tapi sebagian besar dari kita berharap kemampuan itu tidak ada."
Sumber: national gegrapich.co.id

Pages